Rabu, 10 Februari 2021

Panen Rambutan

 Panen Rambutan

Sudah sekian tahun pohon rambutan tumbuh di samping rumah orang tua Marni.  Sejak Lifa, anak Marni berusia 3 tahun, Bapak menanamnya. Saat musim berbuah, rambutan banyak sekali bergantungan di pohon. Buahnya besar dan rasanya manis sekali. Terang saja, banyak semut menghuni setiap sela kulit rambutan. Sekarang pohon itu sudah bercabang banyak dan berbuah lebat.
"Assalamualaikum...Mbah Kakung...Qia datang, Mbah!"seru Qia sambil berjinjit memencet bel di depan rumah.
Ting tong..ting tong...
"Waalaikumsalam, ..ehh, cucu Mbah datang, " jawab Bapak sambil membuka pintu.
Qia langsung berlari dan mencium tangan Bapak. Marni pun langsung mencium takzim tangan Bapak. Qia kemudian menuju dapur mencari Mbah Putri. Ternyata Mbah Putri sedang menggoreng kerupuk. Kerupuk udang kesukaan Qia.
"Mbah Uti, Qia datang, wah ..enak sekali, lagi nggoreng kerupuk kesukaan Qia, " teriak Qia.
"Iya Qia, ayo sudah cuci tangan apa belum, nanti boleh makan kerupuknya," kata Ibu.
"Sudah Mbah, tadi di kran samping pohon rambutan, " kata Qia.
Sambil menengok Bapak Ibu, Marni tak lupa selalu membawa kue kesukaan ibu yaitu kue lapis legit. Kuenya saat diiris nampak garis bewarna coklat tua dan kuning. Rasanya enak dan lembut saat dimakan. Ibu biasa menyiapkan roti untuk persediaan sewaktu-waktu niat berpuasa dan sahur dengan hanya makan roti dan segelas susu. Saat ada tamu pun tidak perlu repot mencari sajian untuk menghormatinya.
"Ibu, ini kue lapis legitnya, Marni taruh di atas lemari es ya," kata Marni.
"Wah, pas banget. Tinggal sepotong tuh kue Ibu, Makasih ya," jawab Ibu.
"Iya, Bu. Marni selalu ingat kesukaan Ibu, " jawab Marni.
Waktu sudah menunjukkan jam dua siang. Marni pun bersiap akan pulang ke rumah. Lifa dan Ijad ditinggal di rumah, karena memang tidak akan menginap di rumah Bapak. Bapak masih memakai gips, hari ini memasuki hari yang ke- 20 sejak pemasangan gips. Bapak nampak sabar dalam menikmati ujian ini.
"Mana ayahmu Qia? Rambutan Mbah berbuah banyak, ayah disuruh memetik rambutan ya! " perintah Bapak.
"Emak, tadi ayah ke mana ya, " tanya Qia.
"Emak melihat ayah naik motor. Coba, Qia lihat sudah sampai rumah lagi apa belum!" perintah Marni.
Kemudian Qia berlari menuju depan rumah. Qia akhirnya menemukan motor ayah ada di depan rumah. Namun ayah tidak ada. Qia menuju samping rumah dekat kandang ayam. Barulah Qia bertemu ayahnya yang sedang memberi makan ayam.
"Rupanya Ayah ada di sini. Qia cari muter-muter. Ayah,  disuruh Mbah Kakung supaya memetik rambutan," pesan Qia.
"O, ya sebentar ini pakannya tinggal sedikit lagi," kata Ayah.
Bapak sudah menyiapkan bambu panjang untuk memetik rambutan. Rambutan ini rupanya belum dipanen sama sekali. Bapak sengaja menunggu suami Marni yang memetik. Bapak takut jika ada semut yang masuk ke dalam gipsnya.
Satu per satu cabang dan ranting rambutan dipetik. Satu ranting buah rambutan bisa berisi 5 sampai 10 buah. Buahnya berwarna merah ranum. Ada yang warna merah tua, hijau dan jingga. Yang berwarna merah bentuknya lebih besar dari yang jingga. Saat dimakan, dagingnya pun tebal dan berair manis. Kulit bijinya terkadang sampai ikut mengelupas. Kalau sudah seperti ini, perlu hati-hati agar tidak memicu batuk di tenggorokan.
Buah rambutan banyak terjatuh di bawah pohon. Semut hitampun mulai beraksi berlarian ke sana kemari. Qia sambil melompat- lompat mengambil buah rambutan. Bapak memerintahkan supaya ranting rambutan dipukul-pukulkan ke lantai agar semut keluar dari sela-sela rambut yang ada di kulit rambutan. Bapak memasukkan rambutan ke dalam tas plastik untuk disiapkan dibawa pulang Qia.
"Qia, ini rambutannya. Nanti dibagi ya sama mbak Lifa dan mas Ijad," pesan Bapak.
"Iya Mbah, mas Ijad pasti senang sekali makan rambutan ini. Manis sekali, Mbah," jawab Qia dengan girang.
"Hati-hati ya, masih banyak semutnya, " kata Bapak.
"Qia nanti minta tolong sama mbak Lifa agar membantu membukakan rambutannya," jawab Qia.
Buah rambutan tinggal tersisa beberapa cabang. Warna rambutan masih nampak jingga sehingga masih menunggu waktu supaya lebih masak lagi. Daun berceceran di bawah pohon. Marni pun segera mengambil sapu untuk membersihkan sampahnya. Daun pun terkumpul dan diangkut ke tempat pembuangan sampah. Bapak biasa membuat kompos sampah daun.
Bapak hanya mengambil kurang lebih satu tas kecil buah rambutannya. Lainnya dibawa pulang oleh Qia. Waktu sudah menjelang sore, Marni pun berpamitan kepada Bapak dan Ibu untuk segera pulang ke rumah. Jarak tempuh Marni sekitar 1,5 jam. Mudah-mudahan sebelum azan Magrib, sudah sampai rumah kembali.

Tantangan hari ke-10 Lomba Menulis di blog menjadi buku

Profil Penulis
Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300.

https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/panen-rambutan/

Senin, 08 Februari 2021

Guru Motivator yang Dirindukan Siswa

 Guru Motivator yang Dirindukan Siswa

Hasil gambar untuk gambar guru mengajar

Callahan dan Clark (1988) mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu.  Dengan motivasi akan tumbuh dorongan untuk melakukan sesuatu dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan. Seseorang melakukan sesuatu kalau memiliki tujuan atas perbuatannya, demikian halnya karena adanya tujuan yang jelas maka akan bangkit dorongan untuk mencapainya.

Sebagai motivator, guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar, dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Peserta didik akan bekerja keras kalau memiliki minat dan perhatian terhadap pekerjaannya.
  2. Memberikan tugas yang jelas dan dapat dimengerti.
  3. Memberikan penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi peserta didik.
  4. Menggunakan hadiah dan hukuman secara efektif dan tepat guna.
  5. Memberikan penilaian dengan adil dan transparan.

Sehubungan dengan motivasi, Maslow menyusun teori tentang kebutuhan manusia yang bersifat hierarkhis dan dikelompokkan menjadi lima tingkat, yaitu : physiological needs, safety needs, belongingness and love needs, esteem needs, and need for self-actualization (Maslow, 1970).

Kebutuhan dasar yang dikatakan Maslow sebagai berikut yaitu kebutuhan psikologis, rasa aman, untuk diakui, untuk dihargai, dan untuk aktualisasi diri.                                                           

Berdasarkan teori motivasi di atas, terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatkan minat belajar peserta didik, sebagai berikut :

  1. Peserta didik akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya.
  2. Tujuan pembelajaran harus disusun jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka mengetahui tujuan belajar.
  3. Peserta didik harus diberitahu tentang kompetensi dan hasil belajarnya.
  4. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun hukuman juga diperlukan sewaktu-waktu.
  5. Manfaatkan cita-cita, sikap, rasa ingin tahu dan ambisi peserta didik.
  6. Usahakan untuk memperhatikan perbedaaan individual peserta didik, misalnya perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subjek tertentu.
  7. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dengan jalan memperhatikan kondisi fisik, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa guru memmperhatikan mereka, mengatur pelajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik memperoleh kepuasan dan penghargaan dan mengarahkan pengalaman belajar ke arah keberhasilan sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.

#Tantangan hari ke-8 lomba Menulis di blog menjadi buku

Profil  Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari.

Minggu, 07 Februari 2021

Peran Guru sebagai Fasilitator


Peran Guru sebagai Fasilitator

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 28, dikemukakan bahwa : “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Selanjutnya dalam penjelasannya dikemukakakan bahwa : "yang dimaksud dengan pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent)" adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik”.

Guru sebagai Fasilitator

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang berugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik.  Hal ini diharapkan agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengungkapkan pendapat.

Guru hendaknya bersikap demokratis, jujur, terbuka dan siap menerima kritik.  Guru harus mampu meningkatkan kompetensinya agar mampu mengimbangi dengan kemajuan teknologi.  Pada era globalisasi sekarang, anak-anak cenderung sering bermain gawai.

Apabila kita memberikan tugas maupun pelajaran yang menyenangkan tentunya mereka akan sibuk dengan tugasnya.  Internet akan dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dan mencari jawabannya.  Beberapa anak-anak juga cenderung senang dengan kegiatan yang bersifat seni dan olah raga maka kita bantu potensi yang dimiliki dengan memberikan ruang kepada mereka untuk beraktualisasi.  Tugas utama guru adalah bagaimana membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik agar tumbuh minat dan motivasinya untuk belajar.

Beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didik antara lain: kemampuan, potensi,  minat, hobi, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah.

Guru yang berhasil mengajar berdasarkan perbedaan tersebut, biasanya memahami peserta didik melalui kegiatan berikut ini :

  1. Mengobservasi peserta didik dalam berbagai situasi, baik di kelas maupun di luar kelas.
  2. Menyediakan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan peserta didik, sebelum, selama dan setelah pembelajaran.
  3. Mencatat dan dan mengecek seluruh pekerjaan peserta didik dan memberikan komentar yang konstruktif.
  4. Mempelajari catatan peserta didik.
  5. Membuat latihan untuk kelompok.
  6. Memberikan kesempatan khusus bagi peserta didik yang memiliki kemampuan yang berbeda.
  7. Memberikan penilaian secara adil dan transparan.

Singkatnya, guru harus siap menjadi fasilitator yang demokratis profesional karena dalam kondisi perkembangan informasi teknologi dan globalisasi yang begitu cepat, tidak menutup kemungkinan bahwa dalam hal tertentu peserta didik lebih pandai atau lebih dahulu tahu dari guru.  Mungkin mereka memiliki berbagai media seperti, ketika guru belum menggunakan/memiliki fasilitas tersebut. Kondisi ini menuntut guru untuk senantiasa belajar meningkatkan kemampuan, siap dan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk belajar dari peserta didiknya.

#Tantangan hari ke-7 lomba Menulis di blog menjadi buku

 https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/peran-guru-sebagai-fasilitator/


Profil  Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 06 Februari 2021

Enam Tantangan Penerapan Multiple Intelligences

Enam Tantangan Penerapan Multiple Intelligences  

Setiap insan terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Namun, tidak semua pihak menyadari keragaman karakter seseorang tersebut.  Dalam pendidikan kita yang serba seragam, perbedaan kerap menjadi masalah bagi pihak sekolah dan siswa.  Sistem pendidikan di Indonesia masih cenderung menyamaratakan standar kecerdasan satu siswa dengan siswa lainnya dengan penilaian metode dan paramater yang sangat sempit yaitu aspek kognitif saja.  Membangun sekolah hakikatnya adalah membangun keunggulan sumber daya manusia, sayangnya banyak sekolah yang sadar/tidak malah membunuh banyak potensi siswanya.

Di balik kebijakan penyeragaman pendidikan itu, muncul sebuah perlawanan terhadap sistem yang tidak adil, sistem yang “mematikan” potensi, minat, dan bakat siswa yang dinilai bodoh, tidak layak, dan gagal. Kenyataannya, siswa yang awalnya sulit memahami materi dari gurunya, tiba-tiba berubah menjadi mudah ketika gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa.

Setiap kali kita diminta siapa yang lebih cerdas : Bill Gates, J.K. Rowling, Rudi Hartono, Rudi Choerudin, atau Rudi Hadi Suwarno? Banyak yang kebingungan untuk menjawabnya.  Kecerdasan manusia dan kebutuhan untuk mengukurnya dengan berbagai instrumen dan indikator tiba-tiba menjadi hal yang penting, terutama ketika kecerdasan dihubungkan dengan syarat-syarat untuk mencapai kesuksesan hidup.  Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada 1983 saat Dr. Howard Gardner, mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya yang awalnya adalah wilayah psikologi ternyata berkembang ke wilayah edukasi bahkan merambah ke dunia profesional di perusahaan-perusahaan besar.

Disarikan dari buku Sekolahnya Manusia karya Munif Chatib (2012), mengapa Gardner dengan multiple intelligences-nya menyita perhatian masyarakat? Setidaknya ada tiga paradigma mendasar yang diubah Gardner, yakni :

  1. Kecerdasan tidak dibatasi tes formal

Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam tes formal.  Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis) yang bersumber pada kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang memiliki nilai budaya (kreativitas) dan kebiasannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).

Selain Gardner, Daniel Goleman menyatakan bahwa sangat naif jika kecerdasan seseorang hanya dilihat dari interval angka IQ.  Padahal kenyataannya, kecerdasan melibatkan kecerdasan diri, disiplin, dan empati yang dikenal sebagai kecerdasan emosional.

  1. Kecerdasan itu multidimensi

Kecerdasan seseorang adalah proses kerja otak seseorang sampai orang itu menemukan kondisi akhir terbaiknya.  Berikut ini adalah sebagai buktinya. Sayid Muhammad Husein Thabathaba`i (Iran) yang mampu menghafal Al Quran beserta maknanya dengan metode photocopy memory (5 tahun).

  1. Kecerdasan, proses discovering ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Multiple intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan anak. 

Ketika multiple intelligences mulai diterapkan di dunia pendidikan beberapa tantangan yang harus dihadapi sebagai berikut :

  1. Beberapa elemen sistem pendidikan kita masih kurang sejalan dengan sistem pendidikan yang proporsional. Secara teoritis, sistem pendidikan yang tidak proporsional dilihat dari segi : (1) input, bagaimana pandangan kita terhadap penerimaan siswa baru; (2) proses adalah bagaimana proses KBM yang efektif; (3) output, bagaimana pengambilan nilai yang adil dan manusiawi.
  2. Pemahaman makna yang salah tentang makna sekolah unggul. Benarkah indikator sekolah unggul itu harus dititikberatkan pada the best input?
  3. Desain kurikulum yang masih sentralistis. Namun sekarang pemerintah menyadari kesalahan kurikulum sentralistis sehingga diubah menjadi KTSP yang punya visi desentralisasi kurikulum.
  4. Penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi hasil akhir pendidikan.
  5. Proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi. Kurangnya kreativitas guru mengindikasikan kualitas guru di Indonesia masih rendah.
  6. Proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuan kognitif yang terbesar, masih belum menggunakan penilaian autentik secara komprehensif.

Penerapan multiple intelligences di sekolah bukanlah suatu bidang studi.  Kesalahpahaman ini dimungkinkan karena kemiripan istilah antara jenis kecerdasan yang dimunculkan dan nama bidang studi.  Misalnya kecerdasan linguistik dianggap bidang studi Bahasa Indonesia.  Namun sebenarnya multiple intelligences adalah sebagai strategi pembelajaran untuk materi apapun dalam semua bidang studi. Strategi pembelajaran berupa rangkaian aktivitas belajar yang merujuk pada indikator hasil belajar yang sudah ditentukan dalam silabus. Intinya adalah bagaimana guru mengemas gaya mengajarnya agar mudah ditangkap dan dimengerti oleh siswanya.

#Tulisan hari ke-6 lomba Menulis di blog menjadi buku

 

Profil Singkat Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300 , email : safitriyuhdiyanti@gmail.com

https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/enam-tantangan-penerapan-multiple-intelligences/

Jumat, 05 Februari 2021

Mari menjadi Guru Profesional

 Mari menjadi Guru Profesional

Guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional khususnya di bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional.  Guru merupakan salah satu unsur pokok yang harus ada setelah anak didik dalam suatu pembelajaran.  Jika seorang guru tidak profesional maka anak didik akan mengalami kesulitan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.  Guru yang memiliki strategi yang bagus dalam setiap kegiatan pembelajaran tentunya akan memberikan dampak yang baik kepada anak didik, sehingga anak didik akan mudah menyerap materi yang disampaikan guru.

Secara umum, baik sebagai pekerjaan ataupun sebagai profesi, guru selalu disebut sebagai salah satu komponen utama pendidikan yang amat penting ( Suparlan, 2006).  Guru, siswa dan kurikulum merupakan tiga komponen utama dalam sistem pendidikan nasional.

Negara maju seperti Jepang adalah salah satu contoh keberhasilan dalam pendidikan.  Ketika Nagasaki dan Hiroshima dibom oleh Amerika, Jepang saat itu lumpuh total.  Maka Jepang terpaksa menyerah kepada sekutu dan setelah itu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral yang tersisa dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?”.  Para jendral pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi walau tanpa guru.  Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar.  Kita kuat dalam senjata dan strategi perang.  Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu.  Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkanlah sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan”.

Betapa besar penghargaan yang diberikan kepada guru sebagai pejuang negara. Tanpa guru, mungkin Jepang sampai saat ini akan terpuruk.  Kemajuan Jepang di era sekarang menjelma menjadi negara maju  yang memiliki  tingkat perekonomian dan teknologi yang tinggi dibandingkan negara-negara lain.  Kisah ini merupakan ilustrasi tentang begitu bernilainya sosok seorang guru.

Sebuah negara bisa masuk kategori maju atau tidak dilihat dari Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia.  HDI adalah alat pengukuran perbandingan yang dilihat dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar  hidup suatu negara.  Dari tahun ke tahun sebenarnya HDI Indonesia naik, namun berkisar 0,6 jauh tertinggal dengan Singapura, Malaysia, Brunai, Thailand, dan Philipina.  Badan Program Pembangunan di bawah PBB (UNDP) dalam laporan Human Development Report 2016 mencatat, HDI Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014 dari 188 negara. Dilihat dari segi pendidikan masa depan, beberapa program yang harus segera direalisasikan adalah peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menikmati pendidikan dan peningkatn anggaran riset dalam dunia pendidikan.

Menjadi profesional berarti menjadi ahli dalam bidangnya.  Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadukan dengan skill atau keahliannya.

Profesi pendidik anak usia dini dijelaskan sebagai status pekerjaan yang mempunyai penghasilan memadai, mempunyai wawasan pengetahuan dan menunjukkan kinerja dengan kualitas yang tinggi (Morrison, 1994).  Prinsip profesional bagi guru antara lain terdapat pada Pasal 7 Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, yaitu : (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme; (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia; (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan bagi guru.

Disebutkan dalam Undang-undang  Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa seorang guru profesional harus memiliki 4 macam kompetensi yaitu :

(1) kompetensi pedagogik yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi : (a) konsep, struktur dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan monsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; (e) kompetisi secara professional dalam konteks global dengan tetap melestarikan  nilai dan budaya nasional.

(2) kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian yang mencerminkan kepribadian yang : (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.

(3) kompetensi profesional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi/kurikulum dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut serta menambah wawasan keilmuan.

(4) kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik;  dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Terlepas dari persyaratan kompetensi yang dituntut dalam Undang-Undang Sisdiknas, UU Guru, dan Peraturan Menteri lainnya; pertanyaan yang paling penting diajukan adalah apakah kita benar-benar serius menjadi guru yang profesional? Undang-Undang itu hanya koridor, motivasi utama untuk menjadi guru seharusnya berasal dari dalam diri kita sendiri.

Jika kita cermati, orang-orang yang berhasil dalam hidup dan profesinya adalah orang-orang yang benar-benar sepenuh hati menekuni bidangnya.  Tidak setengah-setengah, iseng, asal jadi, atau sambil menunggu pekerjaan yang lebih menguntungkan.  Kalau ingin menjadi guru yang benar-benar profesional maka seluruh energi, tenaga, waktu dan perhatian kita kerahkan utnuk kemajuan pendidikan Indonesia.  Jika ada permasalahan maka seorang guru tersebut bisa menyelesaikannya dengan arif dan bijak.

Namun pada kenyataannya, banyak ditemui menjadi guru seperti pilihan profesi terakhir.  Profesi yang sudah mentok tidak ada pekerjaan lain dengan gaji  yang kecil.  Padahal guru adalah mata rantai dan pilar peradaban bagi proses perubahan dan kemajuan suatu bangsa.

Menjadi guru merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi semua yang membidangi profesi ini dan memberikan layanan yang memuaskan bagi anak dan keluarganya.  Apalagi sekarang dengan adanya sertifikasi, guru harus lebih ditingkatkan lagi keprofesionalannya.  Walaupun tidak kita pungkiri di sekitar kita masih banyak guru “Oemar Bakri” dengan penghasilan yang belum memenuhi kebutuhan bagi keluarganya.

Faktor lain yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru antara lain : (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh sebagian guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan diri baik membaca, menulis, maupun kegiatan pengembangan lainnya; (2) belum adanya standard profesional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju; (3) kemungkinan adanya perguruan tinggi swasta yang mencetak guru asal jadi tanpa memperhitungkan outputnya kelak di lapangan; (4) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri.

Sehubungan dengan itu, pemerintah terus berupaya mencari alternatif untuk meningkatkan kualitas dan kinerja profesi guru.  Terobosannya dengan melakukan standar kompetensi dan sertifikasi guru.  Diharapkan akan adanya perbaikan tata kehidupan yang lebih adil dan tegaknya kebenaran dan keadilan di kalangan guru.  Dalam pada itu, guru dapat melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, perkembangan zaman, karakteristik lingkungan dan tuntutan global.  Sertifikasi guru merupakan pemenuhan kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi profesional dan memperoleh pengakuan atas kompetensi guru atau calon guru yang memenuhi standar untuk melakukan pekerjaan profesi guru pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

Menurut Bhaskara Rao (Suparlan, 2005) dalam buku yang berjudul Teacher in a Changing World mengusulkan tujuh program peningkatan profesionalisme guru : (1) proses seleksi, (2) persiapan awal, (3) pemagangan, (4) sertifikasi, (5) pengembangan karir, (6) sikap dan tanggung jawab sebagai pekerjaan profesional guru yang mempunyai etika dan perilaku, (7) status terkait dengan pengakuan sosial pada profesi guru, insentif dan sistem reward.

Profesi guru merupakan profesi yang kompetitif, yang menuntut semua anggotanya untuk selalu meningkatkan profesionalismenya.  Dalam hal ini, guru harus menjadi agen perubahan yang mampu mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak dan berkarakter.  Untuk kepentingan tersebut, diperlukan guru ideal yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.  Tidak ada seseorang yang tiba-tiba menjadi profesional, melainkan ia telah terlatih dalam menyelesaikan masalah-masalah.  Kunci yang terpenting di sini adalah semangat untuk terus menambah ilmu dan keterampilan menghadapi anak-anak.

#Tantangan hari ke-5 Lomba Menulis di Blog menjadi Buku

Kamis, 04 Februari 2021

Masjid di Rumah Marni

 

Masjid di Rumah Marni

 


Virus Corona masih bertebaran di mana-mana.  Corona tidak memandang tua dan muda, bahkan balita sekalipun akan ditumpangi menjadi korbannya.   Para tenaga medis sudah kewalahan melayani pasien dengan sisa tenaga yang ada.  Alat Pelindung Diri (APD) yang terbatas, rasa lelah, kantuk yang menyerang dan mengurangi waktu istirahat mereka.  Kondisi seperti ini yang pada akhirnya akan menurunkan imunitas mereka.

Mereka rela tidak menjumpai keluarganya untuk menjalankan tugas negara.  Muncullah semboyan, “ Kami bekerja, kalian tetap di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus ini.”

Dampak dari wabah ini,salah satunya adalah adanya larangan sholat jamaah di masjid.  Yang lebih menyayat hati, Mekkah Al Mukaromah, sebagai tempat ibadah  umroh dan haji pun ditutup untuk sementara waktu.

“Ya Allah, peringatan ini semoga semakin menyadarkan pula hambaMu yang selalu khilaf ini,”  doa Marni di penghujung sholat malamnya.

Marni tinggal di sebuah perumahan dengan tipe 36, sekitar 10 ubin. Ada sekitar 70 rumah yang ada di perumahan ini.  Masjid di perumahan yang biasa digunakan untuk Sholat Jumat juga akhirnya ditutup untuk menjaga penyebaran virus.

“Ayo Lifa, panggil adik-adikmu, kita Sholat Zuhur berjamaah,” perintah Bapak sambil membetulkan kancing bajunya.

“Qia, main HPnya nanti lagi, segera wudhu,” kata Lifa kepada adiknya.

Qia masih asyik dengan game barunya.  Sejak pandemi ini, ternyata HP Marni sudah terlalu jadul dan memorinya kecil untuk melakukan pembelajaran daring.  Akhirnya Bapak membelikan HP baru.  Qia jadi punya kesempatan pinjam HP lama miliknya.

“Maaf ya Qia sholihah, sudah dengar azan kan. Itu tanda kita harus segera sholat.  Emak membolehkan kamu pinjam HP Emak, asalkan Qia tahu aturannya,” belai Emak sambil menggandeng Qia ke tempat wudhu.

Rupanya Qia belum puas bermain.  Dia berwudhu dengan cepat, air kran pun mengalir deras.  Tentu saja rok yang dikenakan akhirnya basah.

“Mak, aku ganti baju dulu, tidak mau pakai rok ini, lihat nih, basah,” seru Qia.

Akhirnya Bapak, Emak, Lifa dan Ijad menunggu Qia berganti baju.  Kalau tidak ditunggu, bisa jadi Qia akan mogok sholat.  Saat dia mau sholat itupun harus diberi janji aneka rupa. 

“Aduh, kakiku sakit, Mak,” seru Lifa  setelah sholat

“Qia, kamu kurang geser sih,” kata Ijad.

“Kakiku juga sudah menyentuh tembok Mas Ijad,” sahut Qia membela diri.

Dengan 5 anggota keluarga, tempat yang biasa digunakan Marni sekeluarga untuk sholat, sekarang tidaklah cukup.  Ruang sholat ini biasanya memang hanya untuk bertiga, karena Bapak dan Ijad sering sholat jamaah di masjid.

 “Ya, sudah.  Ijad kamarmu dijadikan tempat untuk sholat ya,” ijin Bapak.

“Yah, masak pakai kamarku,” jawab Ijad.

“Kasurmu kan kecil, Ijad. Jadi, masih ada tempat untuk sholat.  Lifa,  nanti kamu bantu Bapak memindahkan almari baju ini ke kamar sebelah ya,” perintah Bapak.

“Baik, Pak, Lifa akan bantu,” jawab Lifa sambil melipat mukena.

Sholat berjamaah sekeluarga terasa nuansa yang berbeda. Terasa ikatan keluarga ini menjadi lebih erat lagi. Suatu moment yang jarang Marni rasakan.  Saat situasi normal, Lifa di pondok, Bapak dan Ijad pulang sekolahnya sore.  Kadang Marni dan Qia saja yang sholat di rumah.

“Saya kok merasa kasihan dengan masjid ya, Mak.  Biasa ramai oleh jamaah dan anak kecil bermain di ayunan dekat TPQ samping masjid,” kata Bapak.

“Gimana lagi Pak, kondisi sedang seperti ini,” jawab Emak.

“Aku ke masjid sebentar ya Mak, mau menyapu dan mengepel.  Biarlah tidak untuk sholat, tapi tetap kubersihkan pasti debunya sudah tebal juga,” sambung Bapak.

“Ajak Wa Hamdan, biar tidak terlalu cape dan cepat selesai,” saran Emak.

“Ya, coba kutelepon dulu,” jawab Bapak.

Bapak orangnya rajin sekali membersihkan masjid.  Belum lagi kalau ada kucing yang berkeliaran sambil membuang kotoran begitu saja.  Kebiasaan itu sudah tumbuh sejak masih muda.  Saat masih usia SMA, Bapak sering datang lebih awal untuk membersihkan masjid sekolah. Dari kebiasaan itulah terbawa sampai tuanya.

Assalamu`alaikum Wa Hamdan, sehat? Kalau ada waktu temani saya ke masjid, mau bersih-bersih dan mengepel lantai masjid,” ajak Bapak melalui ponselnya.

Wa`alaikumsalam Tadz, ya oke, aku meluncur,” jawab singkatnya.

 Rupanya Wa Hamdan sedang di rumah, kembali terdengar suaranya.  Wa Hamdan juga orang yang taat beragama.  Dia adalah orang yang paling rajin melantunkan azan.  Dia juga mudah diajak kerja sama dan memiliki waktu yang longgar.  Istrinya bekerja di Jakarta dan anak semata wayangnya kini sudah kuliah semester 2. 

Pandemi ini berdampak adanya himbauan beribadah dari rumah.  Semua lapisan masyarakat diajak untuk menerapkan aturan ini.  Semoga ujian ini dapat kita lalui bersama dengan ketabahan dan keikhlasan 




 

#Tantangan hari ke-4 lomba Menulis di blog menjadi buku

 Profil  Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 03 Februari 2021

Daring...oh Daring

Daring…. oh Daring



Pandemi Covid 19 masih menunjukkan kurva yang tinggi. Semua orang tak pernah lepas menceritakan  topik ini.  Keputusan Bupati menerangkan bahwa pembelajaran untuk dilaksanakan dari rumah.

HP berdering, ternyata dari Ibu Kepala Sekolah tempat Marni mengajar.  Marni segera berlari menuju ruang tengah untuk segera mengangkat teleponnya.  Ternyata beliau mengajak semua rekan guru untuk rapat.  Karena Marni selaku bagian kurikulum, Ibu Kepala Sekolah sebelum rapat meminta pendapatnya.

“Assalamu’alaikum Bu Marni, sehat? Begini bu, untuk kegiatan KBM TK kita mau bagaimana, apa nanti jam 10.00 kita rapat dengan semua rekan guru? ” tanya ibu Kepala Sekolah.

“Wa`alaikumussalam wr wb, sehat Ibu.  O, Nggih, In Syaa Allah saya bisa bu,” jawab Marni.

“Terima kasih Bu Marni, tolong disiapkan kurikulumnya,” pinta beliau.

“Siap, Bu,”  jawab Marni.

Akhirnya di hari Minggu jam 10.00 rapat pun digelar secara virtual di grup sekolah membahas bagaimana untuk merancang pembelajaran anak-anak selama di rumah.  Hari Senin diputuskan supaya anak-anak berangkat.  Anak-anak   menerima penjelasan tentang adanya virus Corona dan cara menjaga kesehatannya. 

“Anak-anak yang Bu Guru sayangi, hari ini kita belajar hanya sebentar, tidak perlu masuk kelas.  Anak-anak tahu kan, ada virus Corona?” tanya Ibu Kepala Sekolah.

“Saya tahu Bu, karena ada Corona, kata ibuku, aku harus bermain di rumah saja,” kata Izza dengan suara lantangnya.

“Ayo, siapa lagi yang tahu cara menjaga kesehatannya?”, tanya beliau sambil memandangi ke seluruh anak didik.

“Aku kemarin lihat di HP ibuku, ada orang yang memakai masker bu!” jawab Nayla.

“Ya betul, Mas Izza dan Mbak Nayla, untuk menjaga kesehatan kita harus memakai masker, mencuci tangan, dan tidak berkerumun.  Untuk itu, mulai besok, anak-anak belajar dari rumah.  Belajarnya bersama ayah dan bunda. Nanti sebelum pulang, anak-anak akan menerima alat tulisnya,” lanjut Ibu Kepala Sekolah.

Setelah itu, Marni dan tiga guru lainnya mengambil alat tulis.  Anak-anak menerima alat tulis seperti crayon, pensil warna, buku gambar dan alat permainan edukatif lainnya untuk pembelajaran selama di rumah.  Orang tua pun diberikan pengarahan sebentar terkait teknis pendampingan belajar di rumah.

Edisi belajar daring pun dimulai. Orang tua tidak hanya berperan sebagai bapak dan ibu.  Namun sekarang menjabat peran ganda sebagai guru.  Suasana hari pertama daring di rumah Marni begitu heboh.  Saat mengajar di sekolah bisa berkata dengan halus. Namun kadang saat mengajar kepada anak sendiri, kadang sempat bernada tinggi dan menguji kesabaran.  Maklumlah belum ada keteraturan dan penataan waktu dengan baik.  Semuanya beradaptasi dalam kondisi seperti ini.

“Emak, ini bagaimana mengerjakannya?” kata Qia, si bungsu.

Qia baru berusia 5 tahun sekolah di Kelompok B dan belum bisa membaca lancar dan memahami tugas belajarnya.  Akhirnya Marni menjelaskan dan barulah Qia bisa mengerjakan sendiri.

Lanjut anak yang kedua, Ijad.

“Ini pakai buku yang mana, Mak, halaman berapa?”, tanya Ijad.

“Buku tema 7 halaman 30, Mas Ijad.  Coba lihat lagi di video yang sudah dikirimkan bu Guru di grup kelasmu,” perintah Emak.  Emak ditemani Lifa masih sibuk di dapur menyiapkan makan sore.

“HP Emak di mana?”, tanya Ijad.

“Sedang dicas di kamar Emak, tolong diambil saja kalau sudah penuh, nanti gantian Qia juga mau mendengarkan hafalan doa naik kendaraan,” sahut Emak.

Azan magrib berkumandang mengingatkan insan untuk kembali menghadap Rabbnya.  Setelah solat magrib anak-anak jadwalnya menyetorkan hasil murojaahnya. Murojaah artinya setoran hafalan Al Quran.

“Ayo, Ijad hafalkan Surat Al Qolam, Emak tunggu,” seru Emak.

“Lho, kok Al Qolam.  Aku murojaahnya surat An Naba. Al Qolam itu mbak Lifa,” jelas Ijad.

“O, iya,” jawab Emak tersipu sambil menepuk jidat.

“Tadi pagi Emak sudah ngomong ke Ijad,” kata Ijad.

Daring sudah berjalan sepekan, Marni harus sering mengingatkan anak-anak saat waktunya belajar.  Qia harus dibujuk-bujuk belajar apalagi kalau ada teman yang sudah memanggilnya di balik pagar rumah. Marni pun akhirnya membiarkan supaya bermain dahulu agar kondisinya nyaman saat belajar nanti.  

Daring, sesuatu kebiasaan belajar baru bagi anak-anak dan orang tua. Termasuk pula peran guru amatlah penting. Marni pun mengemas pembelajaran dengan sederhana supaya wali murid juga memahami dan mampu mendampingi belajar putra putrinya.

 #Tantangan hari ke-3 Lomba Menulis di blog menjadi buku

 

Profil Singkat Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300 , email : safitriyuhdiyanti@gmail.com,

 https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/daring-oh-daring/

Penyaluran Sedekah Air Bersih

  Penyaluran Sedekah Air Bersih Selasa, 19 September 2023 PD Salimah Purbalingga bersama Laziz Jateng bekerja sama menyelenggarakan kegiatan...