Rabu, 24 Februari 2021

Menulis itu Menyenangkan

 Menulis itu Menyenangkan


Sumber :Pixabay.com

Menulis itu menyenangkan.  Itulah modal awal untuk memulai menulis.  Kita harus membuat mindset otak kita nyaman dan bahagia saat menulis.  Ibarat dikejar deadline maka otak akan otomatis tertuju pada satu ide.  Mungkin awalnya adalah “terpaksa” nanti lama kelamaan akan menjadi terbiasa.  Mengapa menulis terkadang dianggap sesuatu yang sulit?  Karena memang tidak terbiasa menulis.  Meminjam istilah Pak Catur, beliau adalah Redaksi Pelaksana dari Suara Guru PB PGRI, kuncinya adalah menulis, menulis, menulis.  Tidak ada kata terlambat untuk mengawalinya.

Selain itu, kita bisa belajar dari penulis hebat seperti Joanne Kathleen Rowling atau dikenal J.K. Rowling dengan buku best sellernya Harry Potter.  Awalnya 12 penerbit menolak untuk menerbitkan karya perdananya. Hingga akhirnya penerbit kecil Bloomsbury memberi kesempatan kepadanya.

Sebagaimana disebutkan dalam surat Al Insyiroh ayat 6 : “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.  Kita pasti meyakini hal ini. Kita tentu berupaya dengan tekad yang kuat dapat melalui hambatan dan kemalasan untuk menggerakkan jemari kita menari di atas tuts maupun ponsel.

Sylvia Plath mengutarakan bahwa “keraguan adalah musuh kreativitas”.  Kita tidak akan melangkah dengan mantap jika selalu dihantui bayang-bayang keraguan.  Kapan kita akan berani mencoba.  Layaknya seorang anak yang baru belajar naik sepeda.  Dia berlatih dengan sepeda roda tiga.  Kemudian bertambah lagi kemampuannya, mengganti sepedanya dengan sepeda mini dengan dilengkapi roda bantu.  Dia masih merasa takut.  Ada kenyamanan saat masih ada roda bantu.  Namun dia ingin berlari mengejar teman-temannya mengayuh sepeda di urutan pertama.  Dia akan melepas roda bantunya.  Sekali waktu, dia pasti roboh merasakan sakit.  Namun keinginan besar mengalahkan rasa sakitnya, dia mencoba terus sampai akhirnya dia kayuh sepeda dengan kencangnya.

Menulis adalah suatu keterampilan.  Bukan alasan jika kita mengatakan tidak memiliki bakat menulis.  Keterampilan menulis tentu berproses.  Perlu banyak latihan dan menyediakan waktu untuk sedikit bermanja dengan si pena.  Setelah terbiasa menulis maka akan ditemui banyak trik dan pengalaman.

Ide mengalir begitu saja saat kita bekerja.  Jangan sia-siakan ide brilian ini tanpa kita tuangkan dalam sebuah tulisan.  Ide merupakan mutiara yang terserak.  Kita ambil satu persatu mutiara itu untuk kita rajut menjadi sebuah kalung yang indah.  Tulisan yang sampai di hati pembaca tentu perlu banyak polesan.  Pembaca akan merasa ikut hadir dan terhanyut dalam bacaan yang kita tulis.  Untuk itu kita perlu dikuatkan dengan wawasan bacaan yang luas.  Menulis dan membaca ibarat sisi mata uang.  Jika ingin lebih bagus tulisan kita maka kita perlu banyak membaca.  Dengan membaca akan memperkaya diksi, gaya menulis dan pengetahuan untuk bahan ide menulis.

Saat menulis kita akan mendapat pengakuan dari masyarakat jika kita konsisten dalam menulis.  Keberlanjutan dan kontinuitas akan melahirkan sebuah karya.

Bagaimana untuk mengawali menulis?  Kita bisa menulis dari apa saja yang kita sukai dan alami.  Tentu kita masih punya rekaman memori kegiatan selama sehari.  Suatu kejadian akan menjadi inspirasi sebuah tulisan.  Tulislah terus dan jangan berhenti.  Setelah dikeluarkan semua yang ada di pikiran kita maka barulah proses mengedit.

Bahan yang bisa dijadikan untuk menulis diantaranya :

  1. Menulis profil diri, maupun profil orang yang dikagumi. Kita cari sumber bacaan untuk memperkaya tulisan kita.
  2. Mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati. Tuangkanlah menjadi sebuah tulisan.  Namun, tak bisa kita tinggalkan dengan prinsip bahwa hanya kepada Allah SWT, tempat kita memohon, bergantung dan mencari solusinya.
  3. Jika kita sedang mengalami sebuah perjalanan. Tentu banyak hal baru  yang kita lihat dan alami.
  4. Hasil pengamatan dari sebuah peristiwa maupun praktik pembelajaran.
  5. Peristiwa bersejarah. Suatu moment penting yang tidak biasa kita alami tentu menjadi catatan tersendiri dalam hidup kita.

Setiap kebaikan pasti ada pertentangan.  Sama halnya dengan menulis.  Ada 2 musuh menulis yaitu rasa takut dan rasa malas.  Rasa takut jika dianggap jelek dan tidak aktual.  Rasa malas karena kesibukan dan waktu yang tersita.  Inilah yang dinamakan writterblock.  Jika kita mengalami hal ini maka kita bisa mengalihkan sejenak alam pikiran kita ke obyek yang lain.  Kita mencari hawa segar.  Maka akan kembali refresh dan siap menerima ide baru lagi.

Ingin menjadi penulis yang memikat maka kita bisa menyederhanakan kalimat.  Kita bisa membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan.  Beliau banyak menggunakan kalimat-kalimat yang pendek dan lugas.  Kalimat pertama sebagai kuncinya.  Untuk kalimat berikutnya adalah kalimat penjelas. Jika buka repetisi maka hindari pengulangan kata dan manfaatkan kata ganti.

Tulisan kita baiknya melihat pula segmen pembacanya.  Jika akan mengirim tulisan, kita lihat dulu segmen media massa tersebut.  Isinya banyak menayangkan tentang hiburan, kesehatan, ataupun olahraga.  Kita belajar membaca tulisan orang lain sampai akhirnya kita akan memiliki genre dan gaya tulisan kita.

Beberapa hal yang perlu dihindari bagi seorang penulis adalah plagiarisme, menulis yang memicu SARA, dan bernada hoaks.  Kita membuat tulisan selayaknya bisa dinikmati pembaca dan ada nilai kebermanfaatan untuk semua.

Semoga bermanfaat.

Sumber Tulisan : materi Self Driving For Teacher PGRI Digital Literasi yang disampaikan oleh Bapak Catur Nurrochman Oktavian , M.Pd

#Tantangan menulis hari ke 24 Lomba menulis di blog menjadi buku.

Profil Penulis
Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300.

 

 

 

Sayuran Mamak Siti

  Sayuran Mamak Siti

Sumber :m.fimela.com

“Marni, kamu beruntung sekali.  Kamu menjadi pegawai di masa sekarang”.  Ibu tiba-tiba mendekati Marni.

“Memangnya kenapa Bu?”.  Marni penasaran dengan pernyataan ibu.

“Di jaman dulu saat ibu awal mengajar banyak menemui tantangan. Mengajar dengan jalan yang masih berbatu dan jauh dari kota.” Ibu bercerita sampai berkaca-kaca mengenang ceritanya.

Marni memiliki ibu seorang pensiunan guru.  Ibunya lulusan dari Pendidikan Sekolah Agama.  Saat itu, karena keterbatasan biaya, akhirnya ibu hanya menamatkan sampai tingkat SMA.  Profesi guru di jaman itu adalah profesi yang jarang diminati banyak orang.

***

“Ayo, Bu. Ini sudah hampir jam 7, nanti ibu terlambat mengajar,” kata Bapak yang sedang memakai sepatu panjangnya. Istilahnya sepatu but.  Sepatu warna hitam yang terbuat dari plastik dengan bahan karet.  Tingginya kurang lebih sampai 30 cm hampir menyentuh lutut.  Bapak sengaja memakai sepatu itu karena medan kerja Bapak di dataran tinggi yang berwarna merah.  Saat musim hujan, pasti tanahnya akan licin dan becek.

“Iya, tunggu. Ibu ambil tas dulu,”.

“Mb War, tolong dijaga Marni ya, jangan lupa disuapin!”, pesan Ibu.

Mb War adalah orang yang mengasuh Marni sejak kecil.  Orangnya memiliki rambut yang panjang dan bermata bulat.  Sifatnya juga sabar dalam menjaga Marni.

Ibu dan Bapak berangkat kerja berboncengan.  Wilayah kerja dinas Bapak dan Ibu sejalan arahnya.  Kurang lebih memakan waktu 30 menit untuk sampai ke sekolah.

Sepanjang perjalanan hawanya masih dingin.  Kanan kiri banyak pepohonan besar.  Untuk menuju ke tempat sekolah,  Ibu harus melewati pinggiran bendungan.  Sebetulnya ada dua jalan untuk menuju ke sana.

“Bu, nanti turun dekat dermaga ya, ini hari Selasa banyak perahu yang menuju ke sana karena bersamaan dengan pasar ikan.”

“Ya bisa, Pak.  Aku turun di sini, nanti pulangnya aku jemput di sini juga ya.”

“Ya, hati-hati,” ucap Bapak.  Ibu lantas mencium tangan Bapak dan menuju ke bawah.  Perahu sudah menanti para penumpang.  Setelah menunggu 2 orang lagi, berangkatlah perahu tadi.  Perahu feri yang dikendalikan dengan mesin dan bahan bakar solar.  Penumpang banyak yang membawa ikan.  Ada pula sekeranjang sayur mayur.

Sampailah Ibu di tempat pemberhentian perahu.  Semua penumpang turun.  Pak Nahkoda membantu menurunkan bawaan penumpang. Kemudian ibu berjalan ke atas dan bila bernasib baik, maka akan ada teman Ibu yang naik motor melewatinya. Ibu bisa sedikit lega mengurangi rasa cape. Kalau tidak ada, maka  Ibu akan  berjalan kaki sejauh 1 km.

“Wah rupanya, teman-temanku sudah lewat,” gumam Ibu menghilangkan kesendirian.

Peluh menetes di bajunya.  Sepatu yang semula sudah bersemir hitam akhirnya menjadi pudar dan berwarna kecoklatan karena tersenggol sandal dan barang para penumpang kapal.

Anak-anak masih ada yang bermain di luar.  Ternyata setelah Ibu masuk ke kantor, bel masuk segera dibunyikan.  Di dalam kantor hanya ada 4 guru.  Padahal ada 6 kelas yang harus diajar.  Akhirnya para guru berbagi, kelas mana yang akan bergantian bisa ditinggal.  Tentu saja kelas atas yang sudah lebih bisa diatur dan bisa mandiri dalam belajar.

Teng..teng..teng…Suara bel tanda masuk.  Anak-anak yang bermain berhamburan berbaris di depan kelas masing-masing.  Satu anak ada yang menjadi pemimpin barisan dan yang lain membentuk barisan ada 3 banjar.  Sebelum masuk kelas anak-anak mengucapkan doa dan menghafal Pancasila.  Pemimpin kelas mencari barisan mana yang paling lurus dan tertib.  Itulah yang akan masuk kelas terlebih dahulu.  Ibu siap menunggu di depan kelas untuk bersalaman dengan anak-anak.

“Assalamu`alaikum warohmatullohi wabarokaatuh,” salam Ibu sambil memandangi anak-anak satu persatu.

“Wa`alaikummussalam waromatullohi wabarokaatuh,”.

“Anak-anak sebelum kita mulai pelajaran, kita membaca basmalah bersama,” Ibu menyapa anak-anak didiknya.

Anak-anak belajar dengan gaya mereka masing-masing.  Ibu mengajar di kelas 2.  Anak-anak masih belum bisa duduk dengan tenang.  Akhirnya ibu membuka pengajaran dengan bercerita tentang Kisah Adam saat masih di surga.  Anak-anak akhirnya terdiam dan mendengarkan kisahnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.  Tiba waktunya mereka pulang ke rumah.  Semua berkemas dan memeriksa laci masing-masing, apakah ada barang yang masih tertinggal.  Mereka semua ada yang tidak memakai alas kaki.  Dengan alasan sepatunya masih basah dan tidak memiliki sandal.  Mereka pun berpenampilan sederhana dengan hanya membawa satu buku.

Tiba-tiba ada wali murid yang mendatangi kelas Ibu.  Seorang perempuan berbaju kebaya dan memakai kain jarik.  Caping masih terpasang di atas kepalanya.  Dia menurunkan bokor namanya tenggok berisi aneka sayuran dan hasil bumi.  Ada daun singkong, daun ubi jalar, kacang panjang dan singkong.

“Ibu, maaf mengganggu waktunya.  Ini saya bawa panenan dari ladang.  Tolong dibawa pulang untuk ibu dan bu guru di sini.  Kami terima kasih sudah mengajari anak saya,”.  Dia mengatakan sambil membuka capingnya.

“Wah…terima kasih sekali Mamak Siti.  Sudah repot bawa panenannya ke sekolah,”.  Ibu berkata dengan senyum khasnya.

“Saya malah yang minta maaf tidak bisa membayar sekolah Siti.  Sudah dua bulan ini menunggak SPPnya,” katanya dengan berat hati.

“Kami, paham bu, yang penting anak-anak memiliki semnagat untuk terus belajar dan tidak malas-malasan,” Ibu menyampaikan sambil menepuk bahu Mamak Siti.

“Ya sudah, Bu. Salam saja buat Bu Guru yang lain,” Mamak Siti berpamitan undur diri.

“Baik, Bu. Nanti saya sampaikan, sekali lagi terima kasih.” balas Ibu.

Bresss.  Mendung sejak pagi tadi ternyata merupakan tanda akan turunnya hujan.  Tiba-tiba awan sudah tidak kuat menahan kumpulan air.  Tik…Tik…hujan pun turun.  Ibu bersiap pulang dan mencari mantelnya.  Akhirnya Ibu melepas sepatu dan ditinggal di sekolah.  Ibu pulang menggunakan sandal jepit.  Tangan kanan membawa tas dan sebelah kirinya membawa sayuran dan singkong secukupnya setelah dibagikan dengan rekan guru lainnya.

Ibu naik motor bersama temannya.  Lalu Ibu diturunkan di tempat yang biasa untuk naik kapal.  Hujan belum reda, tinggal gerimis kecil. Beruntunglah Ibu, ternyata kapal tidak menunggu sampai banyak penumpang.  Karena sudah mendekati jam 1, Pak nahkoda menjalankan perahunya.

Pemandangan selama naik perahu yang terlihat adalah air yang menghijau dan kanan kiri hutan pinus.  Konon ada yang pernah melihat sekawanan monyet melintasi pohon.  Mungkin mereka sedang mencari makan.  Di tengah bendungan juga ada karamba ikan tawes.  Lumayan besar berukuran sekitar 10 x 20 m.  Setelah 20 menit, tibalah perahu di dermaga.

“Ini, Pak bayarannya,” Ibu memberikan uang kepada pak Nahkoda.

“Iya Bu, terima kasih.” balasnya.

Ibu kembali naik ke atas dan menunggu di tempat biasa.  Bapak ternyata sudah sampai terlebih dahulu.  Bapak pun sudah memakai mantel hujannya.  Rupanya hujan merata. Bapak Ibu pulang menuju ke rumah.  Marni kecil sudah menunggu kedatangan Bapak Ibunya.

#Tantangan menulis hari ke 23 Lomba menulis di blog menjadi buku

https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/sayuran-mamak-siti/

Senin, 22 Februari 2021

Persahabatan bagai Kepompong


 Persahabatan bagai Kepompong

Sumber :Pinterest.com

Sreenggg…bunyi makanan yang digoreng. Qia sedang menggoreng telur.  Kadang Qia tidak mau makan apa yang sudah disediakan Emak.  Akhirnya Qia mengambil telur di lemari es. Telur ceplok hasil gorengan Qia sendiri. Dia dengan cekatan memecah telur dan menaruh di mangkok kecil.  Katanya takut kalau langsung menggoreng di atas wajan penggorengan.  Takut kulitnya kecipratan terkena minyak.  Bau telur memenuhi ruangan dapur minimalis Emak.

 “Qiaaa, main yuk, aku tunggu di depan rumah yaa,” panggil Inay dan Via.  Mereka adalah teman bermain Qia.  Rumah mereka hanya berjarak 5 rumah.  Inay dan Via adalah kakak beradik yang memiliki badan sama besar.  Maklum usia mereka hanya bertaut satu tahun.  Via dulu teman Qia satu sekolah di TK.

“Iya, sebentar.  Aku habiskan makan dulu.” Qia menghabiskan sarapan paginya, nasi putih dengan telor ceplok yang dihiasi kecap.  Qia segera menaruh piring kotornya di tempat cucian piring. Dia mencari-cari jilbabnya.  Berlari ke tempat gantungan mukena.  Ternyata tidak ketemu.  Dia kemudian mengambil jilbab di lemari kecilnya.

“Emak, Qia main ya, tuh sudah ditunggu.”

“Kalau ada azan zuhur, kamu pulang ya,”. Emak berpesan supaya Qia tidak terlambat solat zuhurnya.

“Iya, Mak.  Qia nanti pulang,”.

Qia belum bisa belajar sendiri.  Selama daring, harus ada Emak yang mendampinginya.  Lifa sendiri sudah aktif ngezoom sejak pagi sehingga tidak bisa mengajari Qia.  Ijad jarang menemaninya, ia kadang asyik sendiri main bersama teman-temannya.  Jika Emak  jadwal WFO maka waktu untuk mendampingi belajar Qia, pada siang atau malam  harinya.

Selama satu hari, Qia belajar pelajaran umum kemudian setoran membaca Iqro.  Bu Gurunya berpesan  Qia mendengarkan hafalan 3 ayat sehari sampai sepuluh kali.  Qia masih berulang kali diingatkan. Selama daring banyak sekali kendalanya. Teman, ponsel yang bergantian, kadang sinyal yang tidak bersahabat, maupun waktu pendampingan belajar.

“Nanti sepulang Emak dari sekolah, Qia belajar ya,”.

“Ya, Mak.  Qia nanti belajar dan ngajinya di rumah.” Emak mengingatkan.  Emak pun bersiap ke sekolah dengan membawa setumpuk administrasi dan laptopnya.  Tas punggung yang sudah robek bagian atas setia menemaninya.

***

Qia asyik bermain boneka barby hadiah dari teman Emak.  Boneka yang sudah dicorat-coret mukanya.  Kata Qia, ingin diberi lipstik dan wajahnya dimake up supaya lebih cantik.  Qia juga minta dibelikan sepatu barby.

“Emak, Qia minta dibelikan sepatu barby yaa, ada kok di toko mainan,”.

“Mahal Qia, Emak tidak punya uang.” Emak sengaja tidak langsung mengiyakan supaya melatih Qia bersikap hemat.

“Emak, Inay juga punya, katanya beli di sana.” Qia menegaskan kembali.  Mukanya mulai memelas dan memandangi Emak, tanda minta dikabulkan.

“Qia janji, mengurangi jajannya ya..uangnya untuk membeli mainan itu.” Emak berkata pelan supaya lebih masuk ke hati Qia.  Akhirnya Qia menyetujui.  Sepulang sekolah Emak menjemput Qia untuk bersamanya membeli sepatu barby.

Sebelum berangkat ke toko mainan, Emak mengingatkan supaya Qia tidak minta mainan yang lain.  Emak hafal dengan perangai Qia jika ke toko mainan.  Bisa jadi saat melihat mainan yang begitu banyak, Qia berubah pikiran.  Sesampainya di toko mainan, Qia langsung berlari mencari sepatu keinginannya.  Di toko mainan, banyak dipajang aneka mainan.  Mulai dari jepitan rambut, boneka, bola, masak-masakan, binatang mainan, mobil-mobilan yang bisa dinaiki, hotwell sampai asesoris hiasan.

“Ini, Mak.  Ada kan? Qia beli sebungkus saja.”

“Ya, sudah.  Emak bayar dulu,”.

“Ibu, ini berapa harganya?” Emak menunjukkan barang yang mau dibelinya.

“Lima belas ribu, ada yang lain bu?” tanya penjual mainan.  Karena melihat Qia masih memegang-megang mainan lainnya.

“Sudah ini saja, Bu.” Seolah Emak tidak mempedulikan Qia yang masih asyik di tempat mainan.  Ada 3 orang yang sedang memilih mainan.  Semuanya bersama anaknya yang masih seusia kurang lebih 4-6 tahun.

“Ayo Qia, kita pulang, ingat janjinya tadi.” Emak sudah bersiap memberi uang parkir dan menyalakan motornya.  Qia pun keluar dari toko mainan.  Helm bergambar Winnie the Pooh dipakainya.  Sambil naik di belakang Emak, pandangan Qia masih ke toko mainan.  Dia mungkin masih punya keinginan mainan lainnya.  Cukup dipendam di hatinya.

Di keesokan harinya, gantian Qia yang menghampiri rumah Inay dan Via.  Dia sudah menenteng tas LOL warna pink dan boneka barby.  Qia paling banyak memiliki banyak dibandingkan saat Lifa kecil.  Lifa tidak suka main boneka.  Dia paling sering mainan ke luar ataupun berkejar-kejaran.

Inay dan Via berbeda agama dengan Qia.  Inay, Via dan Qia begitu akrab.  Qia saat bermain ke luar tak pernah menanggalkan jilbabnya.  Qia juga pernah bercerita, saat azan telah tiba kadang Inay yang usianya paling tua mengingatkan,” Qia, kamu ga solat dulu?”.  Akhirnya Qia pun berlari pulang untuk menunaikan kewajibannya.  Bapak juga sering berpesan, saat tiba waktu solat, waktu bermain berhenti dulu.  Jika Qia melanggar, pasti Bapak yang bertindak.

“Qia, kamu sudah beli sepatunya ya. Wah, bagus-bagus, ada yang peach, biru, ada juga sandalnya.” seru Via.  Sepatu barby dengan aneka model dari yang jenis hak tinggi sampai sepatu model mayoret.

“Kemarin siang, aku beli sama Emak di toko mainan yang kamu tunjukkin,” Qia nampak girang.

“Ini sepatu untuk pesta, sama untuk pergi jalan-jalan.  Aku suka warna peach.  Aku pinjam ya,” Inay memilih sepatu baru Qia.  Dari dalam tas LOL keluarlah isinya berupa dot bayi, sepatu mungil boneka LOL, baju dan tasnya.

Sore hari yang cerah.  Banyak anak bermain di perempatan jalan.  Anak laki-laki bermain badminton, yang perempuan bermain kejar-kejaran.  Ada juga yang usia 2 tahun berlarian mengikuti kakaknya.  Ibunya tak mau kalah sudah pasti harus mengikutinya.  Maklum dia sedang senang-senangnya bisa berlari.

Inay dan Via berbaju piyama warna biru tua, bergambar burung hantu.  Mereka tampak anak kembar.

“Qia,Qia, main yuk,” Via memanggil di balik kaca riben.  Via tidak tahu bahwa yang di dalam rumah ada Lifa yang sedang melihat gayanya menata kunciran rambutnya.

“Sebentar, Qia baru mau pakai baju.” Lifa menjawab dari dalam rumah.

Qia pun melongok lewat kaca, dilihatnya Inay dan Via memakai baju piyama.  Qia pun melipat kembali kaos kelap kelip dan celana abu-abu adidasnya.  Qia berubah pikiran ingin memakai baju piyama yang sama dengan mereka.

Seminggu yang lalu Qia minta dibelikan baju piyama.  Qia bercerita ingin punya baju kembaran.  Emak juga kaget Qia mengenal istilah baju piyama, karena sebelumnya Emak hanya mengatakan baju tidur.  Mungkin dari obrolan mereka sehingga Qia menambah lagi kosa katanya.

Di daerah dekat rumah sakit memang ada dua toko.  Saat memasuki toko tersebut, Qia tidak menemukan baju yang dimaksud.  Akhirnya setelah mau pulang barulah menemukan tokonya, yeahh.. ternyata TUTUP. Qia tidak mau selain membeli baju itu.  Emak hanya bilang besok lagi kita ke situ mungkin tokonya sudah buka.

“Emak, kita cari lagi yuk, ke toko yang kemarin,” rayu Qia.

“Nanti sore ya, mudah-mudahan tidak hujan,” Emak menjawab sambil mengetik surat untuk undangan besok pagi.

“Janji ya, Mak. Nanti jam 4, kita kesana,” Qia melirik jam di dinding. Qia sudah paham jarum jam.  Ada dua jarum panjang dan pendek.

Akhirnya Emak memenuhi janjinya.  Emak juga berpikir pasti Ijad yang akan protes jika tahu Emak membelikan baju baru.  Lain waktu, Emak berjanji akan membelikan kaos pendek permintaan Ijad sebulan lalu.

Baju piyama warna biru.  Qia mencari jilbab yang cocok dengan warna baju piyamanya. Diambilnya jilbab biru berenda garis pelangi dengan hiasan gambar kuda little pony.  Mereka bertiga pun tersenyum dan tertawa lepas bersama.  Seolah tidak ada beban.  Dewasa nanti akan menjadi kenangan.  Emak pun mengambil ponselnya, dan menyuruh mereka bertiga berpose di depan ruang tamu.  Klik…jadilah foto bertiga.  Emak mengirimkan hasil jepretannya ke mama Inay dan Via. Makna sahabat ini menjadikan Emak teringat dengan lagu yang dinyanyikan oleh band Sind3ntosca :

Persahabatan bagai kepompong

Mengubah ulat menjadi kupu-kupu

Persahabatan bagai kepompong

Hal yang tak mudah berubah jadi indah

#Tantangan menulis hari ke 22 Lomba menulis di blog menjadi buku.

Profil Singkat Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300 , email : safitriyuhdiyanti@gmail.com.

Minggu, 21 Februari 2021

Berbagi Tugas


Berbagi Tugas

Baju bersih masih teronggok di kasur Ijad. Jemuran siang ini lumayan banyak. Qia senang sekali ganti baju. Saat keluar rumah tak lupa jilbab mungil selalu menutupinya. Walaupun baru 6 tahun, alhamdulillah sudah terbiasa menunaikan kewajiban muslimah. Qia termasuk anak yang pandai memadukan pakaian dan jilbabnya. Jika pakai jilbab pasti akan mencari yang cocok dengan bajunya. Tapi ada satu baju kesukaannya. Warnanya ungu, lengan pendek bermotif bunga, ada hiasan pita di belakang dan tasnya terselempang di pundak. Bajunya melebar saat dipakai. Qia mengatakan ini baju "princess". Sehari dipakai, dicuci, disetrika, esoknya dipakai lagi. Qia memakainya saat santai di rumah. Kalau dipakai keluar rumah, Qia pasti pakai celana "legging" sampai mata kaki.

"Emak, baju "princesku" mana?". Qia bertanya sambil mengeringkan badannya dengan handuk putih bergambar barby.
"Kemarin sudah dicuci, coba cari di kasur ada apa tidak?".
"Ga ada, Mak". Qia membolak balik semua baju. Semakin berantakan baju yang belum sempat dilipat itu. Emak akhirnya menghampirinya. Emak ikut mencari baju Qia. Rupanya baju "princess" terselip di antara baju yang lain di keranjang siap setrika. Akhirnya Qia memakai baju warna abu-abu dengan celana panjang merah pemberian tantenya.

Emak dengan 3 anaknya berbagi tugas. Lifa bertugas menyetrika dan menyapu rumah. Saat tidak ada zoom setoran pagi Lifa diminta membantu Emak memasak di dapur. Kata Mbah Uti kepada Marni, Lifa supaya sering-sering disuruh, supaya tahu pekerjaan yang ada di rumah. Sekaligus untuk membiasakan membantu orang tua. Kadang anak-anak sibuk sendiri dan tidak tahu tugasnya. Untuk itu, sebagai orang tua harus membiasakannya. Kelak saat dewasa tidak akan kaget dengan pekerjaan di dapur.

Ijad sebagai anak laki-laki sering bermain bersama temannya di luar rumah. Apalagi musim pandemi seperti ini, kalau sudah main akhirnya mengumpulkan tugasnya baru di sore harinya. Karena masih SD jadi belajar menggunakan zoom maupun google meet hanya sepekan dua kali. Emak memberi tugas rumah kepada Ijad untuk membantu melipat baju setelah diangkat dari jemuran.
"Ijad, ayo dilipat bajunya, mbak Lifa mau menyetrika nanti sore,".Lifa mengingatkan dari kamarnya. Ijad masih bermain lego bersama temannya.
"Iya nanti,". Ijad menjawab dengan singkat. Rupanya Ijad sedang serius bermain. Lego dibuatnya menjadi mobil tank lengkap dengan tentaranya. Mainannya begitu banyak dan kecil-kecil asesorisnya. Jika ada yang hilang satu, kadang Qia yang jadi sasarannya. Ijad mengira Qia yang bermain legonya.

Jam tiga sore sudah terlewat. Mendung menyelimuti. Sudah dua hari ini, matahari tidak bersinar cerah. Jika pagi hari, kabut tipis turun ke bawah, daun-daun berembun tebal. Srrgg..dingin saat keluar rumah. Hawa segar terasa.

Ijad beringsut dari tempat duduk dan segera merapikan mainannya. Lego dibelinya sejak masih TK, wajar saja ada satu kardus besar ketika semua mainnya dicampur. Ijad mulai mengerjakan tugasnya. Membalik dan melipat baju. Kadang Ijad sambil menggerutu karena sudah menggunung bajunya. Belum lagi jika ada selimut atau kerudung segiempat milik Emak. Ijad kesulitan melipatnya. Sebetulnya hanya kurang sabar saja. Sudah ingin segera main di luar bersama temannya.
"Qia, bantuin dong. Ini baju kamu banyak banget".Ijad sambil menumpuk baju dan memindahkan sebagian ke keranjang. Jika tidak dipindah, maka akan guling dan berantakan lagi.
"Nanti, Qia lagi mainan, aku yang kecil-kecil ya, Mas". Kalau Qia tidak segera menghampiri, Ijad kembali berteriak.
"Cepetan sih, Mas sudah ditunggu sama Mas Afik tuh".
"Iya, iya..Qia bantuin". Qia pun menurut dan menemani Ijad melipat baju. Ijad merasa Qia tidak diberi tugas apa-apa sama Emak. Jadi, Qia diajaknya. Emak pun kadang mengingatkan Qia supaya membantunya. Qia sebetulnya anak yang penurut. Qia paling cepat tanggap saat di suruh mengambilkan ini itu oleh Emak maupun kakak-kakaknya. Pikir Emak, itu sudah cukup memberi tugas buat Qia.

Ijad kemudian pergi ke luar sambil ijin pada Emak minta uang dua ribu untuk membeli jajan.
"Emak, minta uang dua ribu ya,". Emak sengaja memberi uang dua ribuan di dompet khusus jajan. Anak-anak jadi tidak repot dan mencari Emak meminta uang. Tapi sehari dibatasi hanya boleh mengambil 2 lembar karena Emak juga sudah menyediakan jajan di rumah. Saat akan mengisi dompet lagi, Emak akan mengabsen, siapa saja yang sudah mengambil uang jajan itu.

"Wah, uang Emak habis nih. Tadi siapa yang sudah jajan,".
"Tadi yang mengambil Qia dua ribu dan Ijad empat ribu. Terus ada pengamen lewat, ambil uang itu juga," lapor Lifa. Lifa merasa yang jarang jajan keluar, katanya malas keluar rumah. Lifa paling sering hanya nitip ke Emak saat berangkat ke sekolah.
"Ya, tidak apa-apa, yang penting tidak boros. Jajannya tolong diingatkan jangan beli sembarangan," pesan Emak.

Azan magrib masih kurang satu jam. Lifa segera menancapkan kabel setrika ke stop kontak. Sambil menunggu panas, Lifa merapikan alas setrika. Emak sudah hafal, Lifa hanya menyetrika baju yang kecil-kecil. Kaos Bapak, celana panjang Ijad, dan baju Qia, itulah yang sering disetrika Lifa. Daster Emak dan gamis pasti masih menumpuk di keranjang. Emak sudah menyuruh supaya Lifa latihan. Tapi ternyata belum mau juga. Lampu setrika pun berkedip oranye tanda sudah siap melindas baju supaya rapi.

"Qia, tolong dong masukkan bajumu ke almari," perintah Lifa. Pewangi pun disemprot menambah segar pada baju. Lifa pun menyetrika dengan cepat. Hasilnya belum halus dan rapi seperti setrikaan Emak. Cukuplah untuk meringankan pekerjaan rumah.
"Ya, Mbak sebentar, Qia belum selesai makan,". Qia menghabiskan makan dan minum kemudian beranjak menuju ke kamar. Qia membawa setumpuk bajunya dan mulai menata memasukkan ke almari. Qia pisahkan baju dalam, jilbab dan bajunya.

"Qia, ambilkan gantungan baju , 2 saja,". Rupanya kemeja Bapak sudah selesai disetrika, sehingga siap menanti untuk digantung di almari.

Qia pun mengambil gantungan dan memasukkan bajunya. Hasilnya belum rapi dan tidak seimbang kanan dan kirinya. Baju sudah bertumpuk rapi dan siap diangkut kembali. Setelah selesai, Lifa mencabut kabel dan meletakkan setrika dalam posisi berdiri.
"Emak, aku menyetrika jilbabku ya, biar hangat," kata Qia. Jilbab akan dipakai untuk mengaji bada magrib.
"Qia, setrikanya masih panas lho. Silakan boleh, tapi hati-hati kena kulit".
"Qia sudah pernah latihan kok, Mak. Dulu kan Qia punya mainan setrikaan juga," Qia menjelaskan supaya Emak percaya kemampuannya.

Lifa segera menyapu lantai. Kertas pesawat Ijad masih berantakan di luar. Mainan Qia sudah dirapikan kembali ke tempatnya. Lifa menyapu dengan cepat, azan magrib sudah berkumandang. Akhirnya tanpa seijin Ijad, kertas pesawat pun tersapu. Ijad tidak pulang. Biasanya setelah main, Ijad langsung menuju masjid. Mudah-mudahan tidak menanyakan kembali pesawat yang sudah mendarat di tempat sampah.

 

#Tantangan hari ke-21 Lomba Menulis di blog menjadi buku

Profil Singkat Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300 , email : safitriyuhdiyanti@gmail.com,

https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/berbagi-tugas/

Sabtu, 20 Februari 2021

Pembentukan Budi Pekerti Anak Usia Dini

 Pendidikan Makan untuk

Pembentukan Budi Pekerti Anak Usia Dini


 
Makan bersama (Dok. Pribadi)

Saat saya menaiki angkutan kota menuju Purbalingga, di samping saya duduklah seorang ibu bersama putranya kurang lebih berusia lima tahun. Selang beberapa lama anak tersebut meminta makanan yang dibawanya dari rumah. Kemudian dengan lahap, anak tersebut makan sampai habis lalu dia menyerahkan bungkus makanan tersebut kepada ibunya, “Ibu, ini bungkusnya mau dibuang di mana?Tidak ada tempat sampah di sini”. Lalu si ibu menjawab, “Ya, simpan dulu di tas ini, nanti kita buang di tempat sampah”. Alangkah berbahagianya jika masyarakat sekitar kita mendidik seperti ibu ini.

Sebelum kita menyelami bagaimana pendidikan makan di sekolah bisa sebagai salah satu pembentukan budi pekerti bagi anak-anak, marilah kita bersenandung lagu berikut ini :

“Sebelum kita makan, cuci tanganmu dulu,

Menjaga kebersihan agar sehat selalu,

Setelah kita makan jangan lupa doa,

Makan jangan bersuara,

Setelah kita makan ucap Alhamdulillah,

Pada Allah Yang Esa.

Makan dengan tangan kanan,

Makan tidak jalan-jalan,

Duduklah yang rapi seperti Rasulullah,

Makan tidak berantakan, makan tidak bersuara,

Ambillah yang terdekat, seperti Rasulullah”.

Kiranya lagu ini tidak cukup untuk kita hafalkan namun perlu pembiasaan dan keteladanan dari kita selaku orang tua di sekolah. Saat istirahat kita bisa melihat bagaimana etika anak-anak saat mereka makan bekal dan menghabiskan jajan yang dibeli dari para pedagang maupun yang dibawa dari rumah. Ada yang makan dengan tangan kiri, sambil berjalan, lalu membuang sampah secara sembarangan. Padahal di sekolah tentunya sudah ada papan bertuliskan BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA. Sebagai seorang pendidik tentunya kita tidak hanya mentransfer ilmu kepada anak didik kita tetapi perlu adanya penanaman pembiasaan yang baik dan tidak bosan-bosannya kita selalu berpesan sebelum jam istirahat tiba supaya mencuci tangan terlebih dahulu, makan tidak sambil berjalan dan sebagainya.

Anak-anak hendaknya diarahkan agar tidak terbiasa jajan sembarangan, karena khawatir akan mempengaruhi kesehatan mereka. Hal ini dilakukan dengan harapan agar mereka terhindar dari zat-zat kimiawi seperti zat pengawet, zat pewarna, zat pemanis buatan, serta zat-zat lain yang akan merugikan bagi kesehatan mereka saat ini maupun ketika sudah besar nanti. Berdasarkan hasil penelitian Dirjen POM yang melakukan pengujian 18 kota di Indonesia mengungkapkan ternyata 60 % sirup limun yang dijual di sekolah-sekolah mengandung bahan pewarna tekstil dan mikroba. Tentunya minuman seperti ini sangat buruk bagi kesehatan anak-anak.

Berdasarkan kurikulum Taman Kanak-kanak khususnya pada Lingkup Perkembangan Fisik Bagian C. Kesehatan Fisik indikator 52 disebutkan bahwa makan bersama dengan makanan bergizi. Hal ini bisa kita lakukan dengan menjadwalkan sebulan sekali merencanakan untuk makan bersama dengan menu yang variatif dan bergizi. Supaya makan bersama ini menjadi bernilai pendidikan dan anak-anak berlaku sopan di meja makan bukanlah hal yang sulit jika dilakukan sejak dini. Di sini ada empat standar prosedur pendidikan makan yang bisa kita lakukan yakni :

  1. Pijakan penataan lingkungan
    1. Menata alat makan dan bahan makanan di meja yang telah disediakan dan mengajak anak-anak supaya mereka merasa memiliki dan berguna.
    2. Mengatur tempat duduk anak secara efektif dan efisien.
    3. Satu orang guru mengajak anak didik untuk cuci tangan sedangkan guru lain menyiapkan alat dan bahan makanan dan minuman.
  2. Pijakan awal makan
    1. Guru membimbing supaya kita bersyukur kepada Allah atas nikmat diberi makan dan bisa makan dalam kondisi sehat.
    2. Meminta satu anak untuk memimpin membaca doa mau makan.
    3. Guru membimbing dan membagi alat makan.
  3. Pijakan saat makan
    1. Guru mengenalkan menu makanan.
    2. Guru mengenalkan jenis dan kandungan gizi dari nasi, lauk, sayur, buah, dan minuman.
    3. Memberi pijakan individual supaya anak-anak tidak pilih-pilih makanan.
    4. Mempersilahkan anak didik secara bergiliran untuk mengambil makanan secukupnya dimulai dari nasi putih.
    5. Guru memotivasi anak didik untuk mencoba semua makanan yang telah disediakan.
    6. Guru mengingatkan anak didik untuk mengambil makanan secukupnya dan bertanggungjawab untuk menghabiskan sehingga tidak mubadzir.
    7. Guru memotivasi anak didik agar mengikuti adab makan Rasulullah SAW (misal : makan dengan tangan kanan, makan tidak jalan-jalan).
    8. Jika anak melakukan kesalahan atau menumpahkan makanan guru jangan langsung mengatakan ini salah atau tidak baik karena akan mengurangi nafsu makan anak.
  4. Pijakan setelah makan
    1. Melakukan doa setelah selesai makan.
    2. Guru memberikan umpan balik positif dengan memuji anak dan mengucapkan terima kasih sudah melakukan hal yang baik saat makan.
    3. Membersihkan makanan yang berserakan.
    4. Membereskan alat makan sesuai klasifikasi tempat sendok, piring, dan gelas.

Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan pendidikan makan supaya di kala mereka besar sudah memiliki pembiasaan sejak dini.

#Tantangan hari ke-20 Lomba Menulis di blog menjadi buku

Profil Singkat Penulis

Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300 , email : safitriyuhdiyanti@gmail.com,

https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/pendidikan-makan-untuk-pembentukan-budi-pekerti-anak-usia-dini/

Jumat, 19 Februari 2021

Tampil Eksis di Masa Covid 19

Tampil Eksis di Masa Covid 19


 

Masa sekarang adalah masa transformasi pendidikan. Guru melakukan pembelajaran secara online. Apabila guru sedang jadwal WFH maka manfaatkan sebaik mungkin. Bukan malah kita manfaatkan untuk acara keluarga maupun bersantai ria. Kita memiliki tanggung jawab moral kepada pemerintah dan wali murid apalagi terhadap Allah SWT,  Penguasa Alam Raya. Kita bangun komunikasi yang efektif dan tingkatkan kompetensi. Masa pandemi adalah masa yang sulit. Guru dan orang tua juga memiliki problema dalam menghadapi pembelajaran. PPKM Jilid 2 untuk Semarang, Solo Raya dan Banyumas akhirnya diberlakukan kembali untuk menurunkan angka Covid 19.
Kurikulum juga tidak dipersyaratkan untuk dituntaskan di masa pandemi ini. Untuk kurikulum dikemas berupa pembelajaran yang bersifat lifeskill. Guru profesional yang sudah lulus sertifikasi diharapkan untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme dan kesejahteraan. Guru harus naik secara jenjang karier.

Kemarin saya mendapatkan pengalaman luar biasa dari Bapak Ulul Azam, S.Psi.,S.Pd.,M.Pd.,(c)Ph.D. berasal dari Pekalongan. Beliau menyampaikan tentang cara mengatasi pembelajaran supaya lebih eksis dan tidak mengalami pembekuan pembelajaran. Beliau lahir di Batang, 12 Juli 1987.  Pendidikannya dari S1 di Fak Psikologi UGM dan S2 BK. Saat kuliah S2 beliau ditawari memilih kelas yang reguler dengan biaya sendiri atau kelas Jumat Sabtu dengan biaya dari dinas. Ternyata beliau memilih kelas kuliah yang reguler. Beliau berpikir kelas reguler hari Senin-Kamis akan lebih memacu motivasi dan membuka pikirannya. Belajar bersama orang-orang yang masih berusia muda. Sedangkan kalau memilih kuliah di hari Jumat Sabtu, seolah hanya menuntut untuk legalitas. Kuliahnya bersama para senior pendidikan.

Kemudian masuk ke industri dan menjadi manajer pabrik. Setelah itu melanjutkan S3 Di UGM (proses). Riwayat kerja Pak Azam pernah menjadi Cabin Crew Garuda Indonesia, Guru BK SMK, Dosen FKIP, Manager HRD-GA Sami Surya Group, Tim Ahli/Konsultan di Islamic Development Bank, General manager PT Aston Sistem Indonesia, Direktur CV. Cipta Kreasi Indonesia, Owner Azzam Learning Center.

Pak Azam hanya memiliki motivasi utama yaitu kuliah untuk belajar, untuk uang bisa dipikir kemudian. Hal yang perlu dilakukan adalah memiliki semangat sendiri untuk meningkatkan potensi diri.
Sertifikasi harusnya memiliki kompetensi yang lebih unggul. Beliau mengamati jarang ada peningkatan secara signifikan dari sisi afektif, kognitif dan psikomotor. Jadi jika kita ingin maju maka tidak harus menunggu perintah atasan. Kalau kita berpikir hanya banyaknya uang yang dikeluarkan untuk kuliah. Maka ilmu yang kita peroleh tidak akan tidak memiliki kualitas yang bagus. Tanamkan dalam diri ada motivasi yang kuat dan memiliki keinginan untuk mengubah menjadi lebih baik.

Bagaimana pendampingan ke guru agar tetap eksis di masa pandemi? Inilah tiga trik agar tetap eksis selama pandemi :

1. Covid 19 adalah tantangan dan bukan bencana.
Jika semua guru menyadari peningkatan kualitas pendidikan maka guru akan lebih profesional. Inilah kuncinya..maka akan muncul ide kreatif walaupun pandemi. Adanya Covid 19 adalah pembuktian sejauh mana kita bisa hadapi "challenge" ini.

2. Perbaiki komunikasi.
Kita juga perlu memperbaiki pola komunikasi orang tua. Mereka perlu diajak diskusi. Buatlah diskusi dan komunikasi yang brilian untuk pembelajaran. Kita mampu secara dialektif sehingga orang tua tetap merasa butuh dengan pendidikan yang kita berikan.
Membuat komunikasi yang cantik dan kita menguasai esensi pembelajaran yang menyenangkan sehingga orang tua dan siswa juga tidak merasa bosan. Saat pembelajaran online maka guru berpenampilan menarik sehingga siswa akan lebih semangat dalam belajar.
Saat diskusi dengan wali murid, sampaikanlah sesuatu yang substansial sehingga mendapat tambahan pengetahuan yang sifatnya selalu update.
Kita ingat pepatah Jawa yang mengatakan bahwa "Ajining dhiri ana ing lathi" mempunyai makna bahwa ucapan memegang peranan penting bagi seseorang karena diyakini harga diri seseorang ditentukan oleh ucapan, seseorang harus berhati-hati menjaga ucapannya. Kita harus benar-benar mempertimbangkan secara cermat akibat yang dapat ditimbulkan oleh ucapan itu. Ucapan seseorang haruslah disadari sebagai cerminan pikiran dan pribadi seseorang. Ucapan yang dapat menimbulkan citra harga diri adalah harus berdasarkan kebenaran.
Sedangkan "Ajining raga ana ing busana", mempunyai makna bahwa pakaian juga memegang peranan penting bagi seseorang, orang dengan busana atau pakaian rapi tentunya menaikkan martabatnya. Dengan kata lain, busana atau pakaian secara fisik mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.

3. Manusia adalah fluktuatif.
Maka kira harus memiliki kesadaran diri kadang kemampuan kita di atas kadang di bawah. Seiring dengan pertambahan usia maka daya pikir akan menurun. Maka perlu ada kesadaran diri sehingga kita perlu mengikuti pelatihan untuk mencari ilmu.
Akankah kita menjauhi atau kita mau berdamai dengan Covid 19? Kunci menghadapi Covid 19 adalah pada diri kita sendiri. Kita manfaatkan webinar maupun workshop yang ada untuk menambah pengetahuan dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya.



Tantangan hari ke-19 Lomba Menulis di blog menjadi buku

Profil Penulis
Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300.

Kamis, 18 Februari 2021

Menanam Pohon Kebaikan

Menanam Pohon Kebaikan


Persaudaraan yang erat akan mendatangkan kebahagiaan. Ibarat satu tubuh ada yang sakit maka bagian tubuh lainnya akan merasakan sakitnya pula. Ikatan yang menyatukan tidak hanya ikatan darah, namun ikatan iman akan membuat persaudaraan makin abadi dan kekal.
"Mas, sepertinya tetangga sebelah kita sudah mau melahirkan. Kasihan suaminya masih di luar kota. Saya tadi habis ngobrol sama Bu Rina, tadi pagi sudah bukaan 2, saya ijin menemani Bu Rina ya"cerita Marni.
"Terus gimana, kamu mau menemani mengantar ke Puskesmas? Ya sudah, kamu masaknya lebih awal saja, biar nanti kalau sewaktu-waktu ditinggal sudah ada makanan di meja, "sahut suaminya.
"Iya, tadi aku sudah belanja sayur. Kasihan suami Bu Rina masih ada pekerjaan, belum bisa langsung ditinggal, mudah-mudahan pas mau melahirkan sudah sampai di rumah, " sambung Marni.
Bu Rina adalah tetangga baru Marni. Dia tinggal di samping kanan rumah Marni. Pemiliknya kembali ke Surabaya, sehingga rumahnya dikontrakkan. Bu Rina akhirnya yang menempati rumah itu. Bu Rina sudah sepuluh tahun menikah, namun belum juga dikaruniai seorang putra.
Jam tiga sore, Bu Rina ke rumah Marni. Dia sudah menyiapkan perlengkapan dan tas besarnya. Setelah mengunci gerbang dan menyalakan lampu luar, Bu Rina ke rumah Marni.
"Bu Marni, maaf sepertinya saya sudah bertambah sering mulasnya, kita sekarang saja ke Puskesmas ya," kata Bu Rina dengan wajah meringis menahan mulas di perutnya. Perutnya yang sudah membesar membuatnya berjalan dengan pelan.
"Iya, Bu. Saya panggilkan becak di perempatan jalan ya,"Marni sambil sedikit berjalan cepat menyambar kunci motor.
"Emak, Qia ikut naik motor," Qia berlari meninggalkan teman-temannya.
"Qia di rumah saja, Emak hanya memanggilkan becak untuk mengantar Bu Rina ke Puskesmas,". Marni segera menyalakan mesin dan segera mencari becak.
Qia pun hanya melambaikan tangan, tanda dia mau ditinggal. Alhamdulillah, ada satu becak motor yang sedang parkir. Pak tukang becak pun segera mengubah posisinya mengikuti motor Marni. Untunglah ada becak motor, sehingga bisa lebih cepat menuju Puskesmas. Marni pun berpesan kepada Lifa supaya menjaga adik dan menyampaikan pesan ke ayahnya.
Bu Rina tampak memucat, berulang kali perutnya diusap. Marni yang melihatnya juga menjadi terlihat gugup serasa mengalami seperti Bu Rina. Puskesmas sudah dekat, Marni menyiapkan uang untuk membayarnya. Pak tukang becak membantu membawa bawaan menuju Puskesmas. Marni langsung memapah Bu Rina menuju ruang periksa. Hanya terlihat dua orang petugas yang berjaga di loket depan.
"Maaf Bu, tolong dibawa saja ke ruang bersalin, mari mengikuti saya, " kata petugas yang berjilbab biru.
Bu Rina diantar Marni menuju ruang bersalin. Rupanya di dalam sudah ada satu orang yang sedang melahirkan. Terdengar rintihannya menyebut istighfar. Syukurlah mungkin orang tersebut terbiasa berzikir sehingga kata-kata yang baik yang keluar dari alam pikirannya. Bu Rina berada di ruang sebelah yang hanya dibatasi tirai tinggi.
"Bu Marni, tolong telponkan suami saya, kira-kira sudah sampai mana?" pinta Bu Rina.
"Baik bu, semoga suami ibu sudah dalam perjalanan." jawab Marni.
Dari obrolan di telepon ternyata suami Bu Rina sudah sampai perbatasan kota, masih ada waktu dua jam untuk menuju Puskesmas. Marni memberi minum madu dan telur supaya Bu Rina kuat dalam persalinan nanti. Marni selalu menguatkan dan membimbing supaya banyak berdoa.
Mulas perut Bu Rina semakin sering dan disuruh banyak berjalan supaya memudahkan persalinan. Selang 15 menit Bu Rina merasa tidak kuat lagi, akhirnya disuruh masuk ke ruang bersalin kembali. Ada satu perawat yang bersiap dengan segala peralatan dan perlengkapannya.
Suami Bu Rina tergopoh-gopoh berlari ke ruang bersalin. Badannya tidak terlalu tingi dengan rambut cepak dan berkaca mata. Azan isya berkumandang seiring pecahnya tangisan sang jabang bayi. Suami Bu Rina langsung masuk ke dalam.
" Alhamdulillah, ya Allah aku bisa melihat anakku lahir ke dunia," seru suami Bu Rina.
Tangis suami istri pun terdengar. Tangisan bahagia, penantian selama sepuluh tahun terbayar sudah. Bayi laki-laki yang mirip dengan ibunya berukuran 3 kg dengan panjang 50 cm. Kemudian dikumandangkan azan di telinga kanan dan iqomah di telinga kirinya. Dengan harapan akan menjadi anak sholih dan kalimah toyibah yang pertama dikenalnya saat di alam dunia.
Bu Rina mengucapkan terima kasih kepada Marni yang telah setia menemaninya. Karena suami Bu Rina sudah datang, Marni pun berpamitan pulang terlebih dahulu. Marni mendoakan semoga ibu dan bayi sehat dan besok diperbolehkan pulang.
"Bu Rina, maaf saya pamitan dulu. Suami ibu sudah menemani," pamit Marni.
"Saya mengucapkan terima kasih banyak Bu Marni sudi menemani saya, walaupun baru seminggu kita bertetangga tapi Bu Marni baik sekali," kata Bu Rina.
"Sama-sama Bu, kita kan bertetangga. Saudara ibu rumahnya jauh. Sebisa mungkin kita saling membantu jika ada yang butuh pertolongan, "lanjut Marni.
"Semoga kebaikan keluarga ibu dibalas Allah dengan balasan yang berlipat,".
" Ya sudah bu, saya pamit, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, ya Bu Marni, hati-hati di jalan."
Begitulah kehidupan dalam bertetangga. Saudara ada yang sakit, kita ikut merasakan penderitaannya. Barang siapa yang merasa membutuhkan, marilah kita segera membantunya. Semua kebaikan yang ditanam akan dituai hasilnya. Kita menanam kebaikan maka panen kebaikan yang akan kita terima.


https://terbitkanbukugratis.id/safitri-yuhdiyanti/02/2021/menanam-pohon-kebaikan/

Tantangan hari ke-18 Lomba Menulis di blog menjadi buku

Profil Penulis
Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD. Aktifitas sebagai guru di TK Negeri Pembina Bobotsari. NPA : 12111200300.

Penyaluran Sedekah Air Bersih

  Penyaluran Sedekah Air Bersih Selasa, 19 September 2023 PD Salimah Purbalingga bersama Laziz Jateng bekerja sama menyelenggarakan kegiatan...