Rabu, 22 April 2020

Momentum Pembelajaran Daring

MOMENTUM PEMBELAJARAN DARING

DI KELAS B4 TK N PEMBINA BOBOTSARI

Sejak diberlakukannya Surat Edaran Menteri tentang Work From Home dan Belajar Di Rumah, pembelajaran mengalami disrupsi.  Yang semula diadakan secara konvesional bertatap muka sekarang harus dilakukan secara daring.  Demikian pula terjadi di sekolah kami.  Banyak sekali kisah menarik, lucu , maupun sedih yang terjadi dalam proses belajar dengan metode ini. Mulai 16 Maret 2020 sekolah menerapkan metode pembelajaran siswa secara daring. Waktu itu bertepatan hari Senin,  kami sengaja tidak meliburkan.  Hal ini dikandung maksud karena kondisi orang tua tidak semua memiliki alat komunikasi melalui grup WhatsApp sehingga perlu menjelaskan secara langsung.  Anak-anak juga tentunya akan lebih memahami apabila mendengar penjelasan dari ibu guru.  Mereka hanya berkumpul sebentar di halaman sekolah lalu diberikan lembar penugasan untuk dikerjakan di rumah.  Kami memahami anak-anak tidak boleh diberi penugasan biarlah mereka bermain dengan orang tua dan keluarganya dengan bebasnya.  Tetapi apabila orang tua tidak bisa mendampingi belajar, tentunya anak-anak pun akan terlantar. 



Adanya virus Corona adalah merupakan peristiwa yang tidak terlupakan sampai akhir hayatnya.  Anak-anak diberi sosialisasi mengenai virus Corona  melalui pembelajaran daring.  Tentunya kegiatan yang diberikan dikemas dengan cara yang menarik dan tidak membosankan. 
Pembelajaran daring di sekolah kami ternyata tidak berjalan sesuai yang direncanakan.  Ada beberapa kelas lain yang tidak terlaksana karena minimnya fasilitas yang dimiliki oleh orang tua.  Jadi hanya diatasi dengan pemberian tugas saat di hari terakhir masuk sekolah. Untuk mengetahui bahwa anak-anak sudah mengerjakan tugas, maka sekali waktu orang tua diharapkan datang kembali ke sekolah untuk menerima tugas yang baru lagi sambil membawa tugas yang sebelumnya.  Berdasarkan analisis kami melihat ada beberapa faktor penyebab diantaranya sebagai berikut :
1.      Karakteristik anak
Perlu kita pahami bahwa anak usia dini adalah bukan orang dewasa mini.  Mereka memiliki sifat egosentris sehingga masih perlu bimbingan dan arahan.  Setiap anak memiliki karakter dan tahap perkembangan berbeda-beda.  Mereka juga memiliki tipe belajar yang berbeda-beda,ada yang audio, ada yang visual dan kinestetik. 
2.      Latar belakang orang tua
Pekerjaan orang tua dari anak-anak didik juga berbeda-beda.  Ada yang menjadi pedagang, wiraswasta, PNS, buruh dan IRT.  Apalagi di masa lockdown seperti ini tentunya mereka harus berkarya lebih ekstra untuk menghidupi keluarga.  Terutama wali murid yang bekerja sebagai tenaga medis sebagai garda terdepan menghadapi Corona akhirnya mengorbankan keluarga dan anak-anaknya untuk belajar lebih mandiri.
3.      Model pembelajaran
Anak-anak lebih menyukai pembelajaran yang bersifat eksploratif  dan sesuatu yang baru.  Anak-anak diberi tugas tidak hanya sekedar menyelesaikan tugas di bukunya, tetapi anak-anak   diberikan pula kegiatan  kreativitas dengan bahan-bahan yang ada di rumah.  Selain itu kemandirian, sopan santun dan membantu orang tua juga dilatih.  Hafalan surat pendek juga tetap dipantau supaya masih terjaga hafalannya.
Penugasan- penugasan yang bisa diberikan berupa :
a.      Menggambar dan menceritakan tentang corona
b.      Melakukan praktek cuci tangan dengan benar
c.   Melayani orang tua dengan cara membuatkan air minum teh manis, mencuci piring dan memijit ibu.
d.      Berolahraga dan berjemur
e.      Merapikan tempat tidur
f.        Menyanyi lagu kesukaan
g.      Menyebutkan dan mencari benda berbentuk lingkaran , segiempat, segitiga
h.      Mengurutkan benda berdasarkan warna, ukuran, jumlahnya.
i.        Mengenal suara huruf awal  dsb.
4.      Keaktifan  orang tua dan anak
Berdasarkan hasil yang dikirimkan orang tua baik berupa foto,voice note maupun video, ternyata tidak semua menyelesaikan tugasnya.  Bisa juga sudah selesai dikerjakan namun belum sempat mengirimkan ke ibu guru.  Terkadang ada beberapa orang tua yang merasa kesulitan dan  menyampaikan kalau putra/putinya sudah dibujuk tetapi tetap  belum mau mengerjakan. Namun ini bukanlah suatu kendala yang tidak bisa diatasi, karena bagaimana pun anak-anak harus tetap belajar di rumah.     Kami sebagai guru hanya bisa menyampaikan supaya anak-anak tidak perlu dipaksakan dan dibujuk dengan pelan supaya anak memiliki kemauan sendiri untuk mengerjakan.  Karena penilaian di TK bukan tergantung pada hasil tetapi pada proses.  Hal terpenting adalah anak-anak masih terus terpantau saat bermain  dan tidak terlalu larut bermain gawai.
Kami mengambil sampel di Kelas B4 TK N Pembina Bobotsari sebanyak 14 anak.
Ada empat tipe golongan dilihat dari keaktifan anak dan orang tua :
a.      Tipe A : orang tua dan anak saling aktif  ( 75%)
b.      Tipe B : orang tua dan anak tidak aktif (0%)
c.       Tipe C : orang tua pasif dan anak aktif (15 %)
d.      Tipe C : orang tua aktif dan anak pasif (75%)
Pembelajaran daring di Kelas B4  TK N Pembina Bobotsari sudah mencapai angka 75%.  Artinya pembelajaran daring melalui grup wali murid sudah berjalan dengan baik.  Perlu adanya kerja sama dari pihak guru kelas, orang tua dan anak didik supaya pembelajaran daring ini lebih bisa maksimal untuk dilaksanakan.   Inilah pembelajaran daring yang mau tidak mau harus kita lalui tak terbatas ruang dan waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyaluran Sedekah Air Bersih

  Penyaluran Sedekah Air Bersih Selasa, 19 September 2023 PD Salimah Purbalingga bersama Laziz Jateng bekerja sama menyelenggarakan kegiatan...